Category Archives: Teknik Radiografi

Teknik Radiografi – Ektremitas Superior – Wrist Joint (Articulatio Radiocarpalis)

PROYEKSI RUTIN :

- AP

- LATERAL

1. WRIST JOINT AP

  • Posisi Pasien : Pasien duduk disamping sebelah ujung meja pemeriksaan.
  • Posisi objek :
  1. lengan bawah diatas meja;
  2. letakkan wrist joint diatas kaset sisi sebelah kanan dalam posisi supine.
  3. pergelangan tangan diatur berada ditengah kaset.
  4. jari-jari sedikit ditinggikan, tujuannya agar wrist joint benar-benar menempel ke film.
  5. beri pengganjal untuk  imobilisasi. Continue reading

Leave a comment

Filed under Teknik Radiografi

Teknik Radiografi – Ekstremitas Superior – Hand (Oss Manus)

PROYEKSI RUTIN :

- PA ATAU DP

- OBLIQUE (untuk kasus fraktur)

- LATERAL (untuk kasus corpus alienum)

1. MANUS PA

  • Posisi Pasien : Pasien duduk disamping sebelah ujung meja pemeriksaan.

Leave a comment

Filed under Teknik Radiografi

Diagnostic Imaging / Pencitraan Diagnostik

DIAGNOSTIC IMAGING / PENCITRAAN DIAGNOSTIK

Pencitraan diagnostik adalah suatu cara untuk menghasilkan gambar atau citra organ bagian dalam tubuh manusia dengan menggunakan suatu peralatan dan hasil gambaran itu digunakan dokter untuk menegakkan diagnosa suatu penyakit.

Contoh pencitraan diagnostik dalam ilmu radiologi:

  1. Radiografi Konventional

  2. USG

  3. MRI

  4. CT Scan

  5. PET

Continue reading

Leave a comment

Filed under Teknik Radiografi

CATATAN PENTING RADIOGRAFI KEPALA

LANDMARKS KEPALA

Continue reading

Leave a comment

Filed under Teknik Radiografi

Patologi

 

  • PATOLOGI adalah ilmu yang mempelajari tentang penyakit.

Secara umum, dibagi menjadi 2:

1) Patologi Klinik = pemeriksaan penyakit secara laboratorium

2) Patologi Anatomi = pemeriksaan tentang struktur anatomi

  • PENYAKIT adalah suatu reaksi tubuh terhadap rangsangan yang menyebabkan gangguan keseimbangan didalam tubuh.

   Secara umum penyakit dibagi menjadi 3:

   1. radang

   2. degeneratif

   3. neoplasma

  • ETIOLOGI adalah ilmu yang mempelajari penyebab penyakit

Secara umum, etiologi dibagi menjadi 2:

1. penyebab genetic

2. penyebab didapat.

Tujuan mempelajari penyakit:

1. dapat mengetahui penyebab suatu penyakit dan mendiagnosa

2. untuk evaluasi perkembangan penyakit (prognosa penyakit)

Continue reading

Leave a comment

Filed under Teknik Radiografi

Untuk Kita Renungkan : BATU KECIL

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

 

Oleh karena itu, untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu, lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama.

 

Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas. Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

 

Tuhan kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Seringkali Tuhan melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Karena itu, agar kita selalu mengingat kepadaNya, Tuhan sering menjatuhkan “batu kecil” kepada kita.

Leave a comment

Filed under Teknik Radiografi

Pemeriksaan BNO IVP pada Bayi dan Anak-Anak (Pediatric Radiography)

1. Pengertian

BNO = BLASS NIER OVERSICH = Pemeriksaan Radiologi sistem urinaria

IVP = INTRA VENOUS PYELOGRAFIpemasukan media kontras melalui vena.

BNO IVP = Pemeriksaan radiologi untuk menilai gambaran traktus urinarius yang menggunakan sinar x dengan menyuntikkan zat kontras media secara intravena.

 

2. Indikasi pada anak-anak

a. adanya batu ginjal (neprolithiasis)

b. anomali trac. urinaria

c. trauma renal

d. etc

3. Kontraindikasi

yaitu kontra indikasi terhadap media kontras.

- Absolut (mutlak) : shock, dehidrasi

- Relatif : alergi iodine dan makanan laut, gagal jantung, gagal ginjal, dll.

 

4. Persiapan Pasien

A. Seleksi Pasien

- anamnesis : riwayat tentang penyakit dan keluhan yang dialami yang dipaparkan pasien.

- pemeriksaan lab :

B. Pengosongan usus besar dengan enema dan laksansia

tujuan : untuk membersihkan usus dari udara dan usus yang mengganggu gambaran BNO IVP

*) PS :

- Bayi – 1tahun = tidak perlu

- > 1 tahun = castor oil (minyak jarak)

 

5. Teknik Pencitraan

TUJUAN : HASIL OPTIMAL ” GAMBAR TR. URINARIUS JELAS ” RADIASI RENDAH ” ALARA

1.PENGGUNAAN HIGH-OUTPUT X-RAY
•Waktu dipersingkat
•Kualitas sinar X lebih baik
2.SCREEN DAN FILM YANG SENSITIF
3.TEKNIK PEMOTRETAN YANG BAIK ; objek tidak bergerak.
4.PROTEKSI RADIASI
•Kolimasi
•pelindung gonad

6. Interpretasi Foto

Foto polos abdomen = persiapan, ada/tidak batu radio-opak.

Foto 1 – 2 menit = nephrogram untuk menilai fungsi ginjal.

Foto selanjutnya = 5 – 30 menit untuk menilai pelvis, calyx, ureter, vesica urinaria.

Neonatus   – GFR rendah (20%) dari dewasa

                      – densitas urogram rendah

                      – ekskresi kontras lebih lama

Leave a comment

Filed under Teknik Radiografi

Perbedaan Foto BNO dengan Foto Polos Abdomen ???

sering kali foto BNO dan foto polos abdomen (FPA) selalu disamakan, misalnya ada istilah “BNO 3 Posisi” sebagai penyamaan dari “Abdomen Polos 3 posisi”… padahal sebenarnya, istilah itu jelas salah karena foto BNO dan foto polos abdomen itu berbeda.

Berikut ini penjelasan mengenai perbedaan antara foto BNO dan foto polos abdomen

1. Foto BNO

Foto BNO atau Blass Nier Oversich *dalam bahasa inggris disebut KUB (Kidney Ureter Bladder)* adalah foto didaerah abdomen untuk melihat tractus urinaria dari nier (ginjal) hingga blass (kandung kemih). Pemeriksaan dilakukan DENGAN PERSIAPAN. Biasanya indikasi pemeriksaan ini adalah batu ginjal. Pemeriksaan kompleksnya adalah BNO IVP yang menggunakan media kontras. Tujuan dari persiapan BNO adalah untuk membersihkan rongga abdomen dari udara dalam usus yang dapat mengganggu gambaran foto BNO. Persiapan yang dilakukan yaitu puasa dari malam sebelum pemeriksaan, meminum obat pencahar, dan tidak banyak bicara dan tidak merokok selama sebelum pemeriksaan.

PS : untuk foto BNO, luas lapangan penyinaran atau kolimasinya harus mencakup daerah ginjal hingga blass yaitu titik pusat sinar (CP) berada di daerah umbikus dan batas bawahnya adalah simfisis pubis.

postingan mengenai BNO IVP bisa klik disini

 

 

2. Foto Polos Abdomen (FPA)

Foto Abdomen adalah foto didaerah abdomen untuk melihat Gastro Intestinal, disebut juga foto abdomen polos. Indikasi pemeriksaan ini salah satunya adalah untuk melihat ada atau tidaknya udara bebas dalam rongga perut. Pemeriksaan lengkapnya ada ABDOMEN 3 POSISI yaitu foto abdomen yang dilakukan dalam 3 proyeksi atau posisi yaitu ABD AP, ABD setengah duduk, dan ABD LLD (Left Lateral Decubitus). Foto abdomen diperlukan untuk indikasi abdomen akut yaitu pemeriksaan yang memerlukan tindakan segera.

postingan mengenai pemeriksaan Abdomen 3 Posisi, bisa klik disini

1 Comment

Filed under Teknik Radiografi

Cardio Thorax Ratio (CTR)

CARDIO THORAX RATIO

Suatu cara pengukuran besarnya jantung dengan mengukur perbandingan antara ukuran jantung dengan lebarnya rongga dada pada foto thorax proyeksi PA.

Perhitungan :

  1. Buat garis lurus dari pertengahan thorax (mediastinum) mulai dari atas sampai ke bawah thorax.
  2. Tentukan titik A, yaitu titik terluar dari kontur jantung sebelah kanan.
  3. Tentukan titik B, yaitu titik terluar dari kontur jantung sebelah kiri.
  4. Buat garis lurus yang menghubungkan antara titik A dan B
  5. Tentukan titik C, yaitu titik terluar bayangan paru kanan.
  6. Buat garis lurus yang menghubungkan antara titik C dengan garis mediastinum.
  7. Perpotongan antara titik C dengan garis mediastinum disebut titik D.

 

 

RUMUS

 

Jika hasilnya diatas 50 %, dapat dikatakan pembesaran jantung (cardiomegali)

Penyebab cardiomegali :

  1. Atrial Septal Defect (ASD)
  2. Mitral Stenosis
  3. Left Ventricular Aneurysm (LVA)

Leave a comment

Filed under Teknik Radiografi

TRL 3 _ Fistulografi

Teknik Radiografi Fistulography

PENGERTIAN
Pemeriksaan radiologi dengan memasukkan Media Kontras pada hollow organ (gastrointestinal tract, bladder) atau tubular structures (bile ducts, ureter).
Indikasi fistulografi ialah untuk menampakkan kerusakan atau luka yang diakibatkan oleh postoperative misal : pada bile duct dan ureter
Fistulous tracks dapat terbentuk dari infection, inflammatory atau tumour lesions serta dari permukaan skin (abscesses, osteomyelitis).
Fistulous track dapat ditampakkan dengan memasukkan blunt needle atau small catheter ke dalam mouth of the fistula.
Umumnya digunakan water-soluble contrast medium seperti barium dapat digunakan pada gastrointestinal tract.
DEFINISI FISTULA
Fistula ialah saluran tidak normal yang menghubungkan organ-organ bagian dalam tubuh yang secara normal tidak berhubungan, atau menghubungkan organ-organ bagian dalam dengan permukaan tubuh bagian luar,   dapat pula diartikan sebagai abnormal connection atau passageway antara 2 organ epithelium-lined atau vessel yang secara normal tidak berhubungan.
LOKASI FISTULA
Biasanya fistula ditemukan pada:
1. Diseases of the eye, adnexa, ear, dan pada mastoid process
  • (H04.6) Lacrimal fistula
  • (H70.1) Mastoid fistula
    • Craniosinus fistula: antara intracranial space dan paranasal sinus
  • (H83.1) Labyrinthine fistula
    • Perilymph fistula: tear antara membran-membran yang terletak antara middle and inner ears
  • Preauricular fistula
    • Preauricular fistula: biasanya pada puncak cristae helicis ears
2. Diseases of the circulatory system
  • Coronary arteriovenous fistula
  • Arteriovenous fistula pada pulmonary vessels
    • Pulmonary arteriovenous fistula: antara artery & vena lungs, menghasilkan aliran blood pada keduanya. Akibatnya, oxygenated blood yang tidak sempurna.
  • Cerebral arteriovenous fistula
  • Arteriovenous fistula
  • Fistula of artery
3. Diseases of the respiratory system
  • Pyothorax fistula
  • Tracheoesophageal fistula akibat tracheostomy: antara saluran nafas dan saluran pencernaan.
4. Diseases of the digestive system
  • Duodeno Biliary Fistula
  • Fistula of salivary gland
  • Fistula stomach and duodenum
  • Gastrocolic fistula
  • Gastrojejunocolic fistula – , fistula terbentuk antara colon transversum dan upper jejunum. Fecal matter masuk dari colon ke dalam lambung dan dapat menyebabkan halitosis.
  • Enterocutaneous fistula: antara intestine & skin surface, biasanya dari duodenum atau jejunum atau ileum.
  • Gastric fistula: dari stomach ke skin surface
  • Fistula of appendix
  • Anal fistula
    • Anorectal fistula : menghubunkan rectum atau anorectal area lainnya ke skin surface. Menghasilkan abnormal discharge feces melalui lubang lainnya selain anus. Jug disebut fistula-in-ano.
      • Fecal fistula: see Anorectal
      • Fistula-in-ano
  • Fistula of intestine
    • Enteroenteral fistula : antara two bag intestine
  • Fistula of gallbladder
  • Fistula of bile duct
    • Biliary fistula : menghubungkan bile ducts & skin surface, biasanya diakibatkan gallbladder surgery
  • Pancreatic fistula: antara pancreas & exterior via abdominal wall
5. Diseases of the urogenital system
  • Vesicointestinal fistula
  • Urethral fistula
    • Innora : antara prostatic utricle dan outside body
  • Fistulae involving female genital tract / Obstetric fistula
    • Vesicovaginal fistula : antara bladder & vagina
    • Female urinary-genital tract fistulae
      • Cervical fistula: abnormal opening pada cervix
    • Fistula of vagina to small intestine
      • Enterovaginal fistula: antara intestine & vagina
    • Fistula of vagina to large intestine
      • Rectovaginal : antara rectum dan vagina
    • Female intestinal-genital tract fistulae lainnya
    • Female genital tract-skin fistula
PENYEBAB FISTULA
  • Sebagian besar karena infeksi, trauma atau tindakan bedah medis oleh dokter (Medical Ilustration Team, 2004).
  • Fistula disebabkan cacat bawaan (kongenital) sangat jarang ditemukan (Emmet, 1964).
  • Daerah anorektal merupakan tempat yang paling sering ditemukannya fistula (Price,1992).
TYPE FISTULA
Adapun type daripada fistula antara lain :
  1. Blind (buntu) ujung dan pangkalnya hanya pada satu tempat tetapi menghubungkan dua struktur.
  2. Complete (sempurna) mempunyai ujung dan pangkal pada daerah internal dan eksternal.
  3. Horseshoes (bentuk sepatu kuda) menghubungkan anus dengan satu atau lebih titik pada permukaan kulit setelah melalui rektum.
  4. Incomplete (tidak sempurna) yaitu sebuah pipa atau saluran dari kulit yang tertutup dari sisi bagian dalam atau struktur organ.
CONTOH PEMERIKSAAN PADA FISTULA PERIANAL
DEFINISI
  • Fistula perianal merupakan alur granulomatosa kronik yang berjalan dari anus sampai bagian luar kulit anus /dari abses sampai anus atau daerah perianal.
  • Fistula perianal dapat berhubungan dengan rektum tetapi bisa juga tidak berhubungan disebut fistula in ano atau fistula anorektal (Price,1992).
  • Fistula perianal didahului oleh pembentukan abses.
  • Abses perianal disebabkan dari infeksi akut dari kelenjar kecil yang terjadi di sebelah anus, kemudian bakteri masuk ke jaringan dan menembus kelenjar.
  • Setelah abses mengering, terbentuk lubang yang menghubungkan kelenjar anal dari tempat abses terbentuk ke kulit, sehingga pada permukaan kulit terbentuk luka.
  • Lubang yang menghubungkan kelenjar anal dari tempat abses terbentuk ke kulit disebut fistula perianal (Christian, 2004).
GEJALA FISTULA PERIANAL
  • Gejala abses & fistula perianal meliputi nyeri konstan atau terus menerus, disertai bengkak pd t4 tersebut.
  • Gejala lain yaitu adanya iritasi kulit di sekitar anus, nanah mengalir yang sering kali menimbulkan rasa sakit, demam, dan tubuh terasa lemas (Christian, 2004). 
PROSEDUR PEMERIKSAAN
Pemeriksaan fistula tergantung dari lokasinya, dapat didiagnosa dengan beberapa macam pemeriksaan diagnostik yang sering dilakukan untuk pemeriksaan pada peradangan penyakit usus, seperti pemeriksaan barium enema, colonoscopy, sigmoidoscopy, endoscopy dan dapat juga didiagnosa dengan pemeriksaan fistulografi (Wake Forest University School of Medicine Division of Radiologic Sciences, 2001).
PERSIAPAN PEMERIKSAAN
  • Pada pemeriksaan fistulografi tidak memerlukan persiapan khusus, hanya pada daerah fistula terbebas dari benda-benda radioopaque yang dapat menganggu radiograf (Bryan, 1979).
  • Apabila pemeriksaan untuk fistula pada daerah abdomen maka saluran usus halus terbebas dari udara dan fekal material (Ballinger, 1999).
  • Alat dan bahan yang harus dipersiapkan sebelum dilakukan pemeriksaan antara lain (Ballinger, 1999) :
    • Pesawat sinar-x yang dilengkapi flluoroskopi
    • Film dan kaset sesuai dengan kebutuhan
    • Marker R dan L
    • Apron
    • Sarung tangan Pb
    • Cairan saflon
    • Peralatan steril meliputi : duk steril, kateter, spuit ukuran 5 ml-20 ml, korentang, gunting, hand scoen, kain kassa, jeli, abocath, duk lubang.
    • Alkohol
    • Betadine
    • Obat anti alergi
    • Media kontras jenis water soluble yaitu iodium.
TEKNIK PEMERIKSAAN
  • Sebelum media kontras dimasukkan terlebih dahulu dibuat plan foto dgn proyeksi Antero Posterior (AP),
  • Media kontras dimasukkan dengan kateter atau abocath melalui muara fistula yang diikuti dengan fluoroskopi.
  • Kemudian dilakukan pemotretan pada saat media kontras disuntikkan melalui muara fistula yang telah mengisi penuh saluran fistula.
  • Hal ini dapat dilihat pada layar fluoroskopi dan ditandai dengan keluarnya media kontras melalui muara fistula (Ballinger, 1995).
  • Jumlah media kontras yang dimasukkan tergantung dari luas muara fistula.
TEKNIK PEMASUKAN MEDIA KONTRAS
  • Tujuan pemasukan media kontras adalah untuk memperlihatkan fistula pada daerah perianal.
  • Pemasukan media kontras dimulai dengan membersihkan daerah sekitar fistula dengan betadine.
  • Media kontras dimasukkan ke dalam muara fistula kira-kira sedalam 2-3 cm secara perlahan-lahan melalui kateter yang sudah diberi jeli dan diikuti dengan fluoroskopi.
  • Kemudian media kontras disuntikan perlahan-lahan sehingga media kontras masuk dan memenuhi lubang fistula yang di tandai dengan menetesnya media kontras dari lubang fistula. (Ballinger, 1995).
PROYEKSI PEMERIKSAAN PADA PERIANAL FISTULA
1. Proyeksi Antero Posterior (AP)
  • Posisi pasien supine di atas meja periksaan, kedua tangan diletakkan di atas dada dan kedua kaki lurus. Pelvis simetris terhadap meja pemeriksaan.
  • Kedua kaki endorotasi 15-20 derajat, kecuali jika terjadi fraktur atau dislokasi pada hip joint.
  • Sinar vertikal tegak lurus kaset, central point pada pertengahan kedua krista iliaka dengan FFD 100 cm.
  • Eksposi pada saat pasien tahan nafas.
2. Proyeksi Lateral
  • Penderita diatur miring di salah satu sisi yang akan difoto dengan kedua lengan ditekuk ke atas sebagai bantalan kepala.
  • Mid Sagital Plane sejajar meja pemeriksaan, dan bidang axial ditempatkan pada pertengahan meja pemeriksaan.
  • Spina iliaka pada posisi AP sesuai dengan garis vertikal sehingga tidak ada rotasi dari pelvis.
  • Central Point pada daerah perianal kira-kira Mid Axila Line setinggi 2-3 inchi di atas simfisis pubis, sinar vertikal tegak lurus terhadap kaset dan FFD 100 cm. Eksposi pada saat pasien tahan nafas.
3. Proyeksi Oblique
  • Posisi pasien prone di atas meja pemeriksaan, tubuh dirotasikan ke salah satu sisi yang diperiksa yang menunjukan letak fistula kurang lebih 45 derajat terhadap meja pemeriksaan.
  • Lengan yang dekat kaset diatur di bawah kepala untuk bantalan kepala sedangkan lengan yang lain diatur menyilang di depan tubuh. Kaki yang dekat kaset menempel meja pemeriksaan, kaki yang lain ditekuk sebagai penopang tubuh.
  • Pelvis diatur kurang lebih 45 derajat terhadap meja pemeriksaan. Untuk fiksasi, sisi pinggang yang jauh dari kaset diberi penganjal.
  • Sinar diatur vertikal tegak lurus terhadap kaset dan central point pada daerah perianal kurang lebih 2-3 inchi di atas simfisis pubis, tarik garis 1 inchi tegak lurus ke arah lateral. FFD diatur 100 cm. Eksposi pada saat pasien tahan nafas.
4. Proyeksi Axial Methode Chassard-Lapine
  • Posisi pasien duduk di atas meja pemeriksaan sehingga permukan posterior lutut menyentuh ujung tepi meja pemeriksaan kemudian kedua tangan lurus ke bawah menggenggam lutut.
  • Pasien membungkukan punggung semaksimal mungkin sampai simfisis pubis menyentuh meja pemeriksaan, sudut yang dibentuk antara pelvis dgn sumbu vertical kira-kira 45 derajat.
  • Sinar vertikal tegak lurus kaset dengan central point melalui daerah lumboskral menembus trokhanter mayor. Bila fleksi tubuh terbatas central point diarahkan dari anterior obyek tegak lurus menuju bidang koronal dari simfisis pubis. FFD diatur 100 cm.
5. Proyeksi Taylor
  • Pasien supine di atas meja pemeriksaan dengan kedua tangan diletakan di atas dada dan kedua kaki lurus.
  • Pelvis diatur sehingga true Antero-Posterior yaitu kedua krista iliaka ka dan ki berjarak sama terhadap meja pemeriksaan dan Mid Sagital Plane berada di pertengahan meja pemeriksaan. Sinar menyudut 30o ke cranial, central point pada 2 inchi di bawah batas atas dari simfisis pubis. FFD diatur 100 cm. Eksposi pada saat pasien tahan nafas.
TUJUAN PEMERIKSAAN
1. Proyeksi Antero Posterior (AP)
Proyeksi AP pre pemasukan media kontras bertujuan untuk melihat struktur anatomi, persiapan pasien & penentuan faktor eksposi yang tepat. Sedangkan Proyeksi AP post pemasukan media kontras bertujuan untuk mengetahui arah fistula apakah mengarah ke kanan atau ke kiri serta untuk melihat penampang fistula dari depan.
2. Proyeksi Lateral
Bertujuan untuk memperlihatkan arah fistula apakah mengarah ke depan atau ke belakang.
3. Proyeksi Oblik
Bertujuan untuk melihat hubungan antara fistula yang satu dengan fistula yang lain jika kemungkinan terdapat beberapa fistula. Proyeksi ini juga dapat memperlihatkan kedalaman fistula yang mengarah ke samping.

1 Comment

Filed under Teknik Radiografi